Beranda / Berita Lokal / Banjir Petogogan: Tanggul Kali Krukut Jebol, 66 RT Tergenang, Gubernur Perpanjang Operasi Cuaca

Banjir Petogogan: Tanggul Kali Krukut Jebol, 66 RT Tergenang, Gubernur Perpanjang Operasi Cuaca

Banjir Petogogan Tanggul Kali Krukut Jebol 66 RT Tergenang Gubernur

Banjir Melanda Petogogan, Tanggul Kali Krukut Jebol Akibat Debit Air Besar

Jakarta Selatan, 23 Januari 2026 – Banjir melanda wilayah Petogogan, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, setelah tanggul Kali Krukut jebol pada dini hari Jumat, 23 Januari 2026. Air genangan setinggi 60 sentimeter telah menggenangi sejumlah rumah warga, menyebabkan kerusakan pada pagar dan struktur bangunan.

Yaswin Ibensina, warga Jalan Pulo Raya IV Petogogan, mengaku mendengar suara gemuruh dan denting hujan di atas genting rumah sebelum air mulai memasuki rumahnya. “Kami keluar untuk melihat situasi, dan di situlah air mulai masuk rumah dan membuat pagar rusak berat,” ujarnya.

Berdasarkan pengamatan Tempo di lokasi, petugas dari Unit Peralatan dan Perbekalan Dinas Sumber Daya Air Jakarta tengah memperbaiki tanggul yang jebol. Mereka silih berganti membawa material dan tumpukan pasir untuk menutup celah air yang memasuki pemukiman warga.

BPBD Jakarta: 143 RT Terjadi Banjir, Jakarta Selatan Terburuk

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta mencatat, hingga Jumat, 23 Januari 2026, terdapat 143 Rukun Tetangga (RT) di Jakarta yang terdampak banjir. Jakarta Selatan menjadi wilayah dengan jumlah RT tergenang terbanyak, yaitu 66 RT.

“Penyebabnya curah hujan tinggi dan meluapnya sejumlah sungai,” kata Kepala BPBD Jakarta, Isnawa Adji. Selain Petogogan, banjir juga terjadi di sejumlah wilayah lainnya, seperti Kebayoran Lama, Pesanggrahan, dan Cilandak.

Isnawa juga menambahkan bahwa tim penanggulangan bencana telah segera beraksi untuk mengurangi dampak banjir, termasuk dengan menyediakan pompa air dan memastikan akses jalan tetap terbuka.

Gubernur Jakarta Perpanjang Operasi Modifikasi Cuaca

Gubernur Jakarta, Pramono Anung, telah memerintahkan perpanjangan operasi modifikasi cuaca hingga 27 Januari 2026. Operasi ini awalnya berakhir pada 23 Januari, tetapi dinilai masih dibutuhkan untuk mengantisipasi hujan lebat yang terus terjadi.

“Operasi modifikasi cuaca ini yang seharusnya selesai tanggal 23, akan kita perpanjang sampai dengan tanggal 27,” kata Pramono usai meninjau Kali Cakung Lama, Segmen Sungai Begog, Jakarta Utara.

Pramono mengungkapkan keinginannya agar pemerintah daerah tidak terlambat bersiap menghadapi potensi hujan lebat. “Kita tidak ingin terjadi banjir lagi karena kurang persiapan,” tambahnya.

Analisis dan Solusi Jangkauan Panjang untuk Banjir Jakarta

Banjir yang terjadi di Petogogan bukanlah kasus pertama di Jakarta. Sejak lama, ibu kota telah menghadapi masalah banjir berulang setiap musim hujan. Penyebab utama meliputi curah hujan tinggi, sistem drainase yang tidak memadai, dan kerusakan infrastruktur seperti tanggul yang jebol.

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah perlu melakukan langkah-langkah jangka panjang, seperti:

    • Peningkatan Infrastruktur Drainase: Membangun dan memperbaiki sistem drainase yang efektif untuk mengurangi genangan air.
    • Perkuatan Tanggul dan Bendungan: Memastikan keberadaan tanggul dan bendungan yang kuat untuk menahan debit air besar.
    • Pemantauan Cuaca yang Lebih Akurat: Menggunakan teknologi modern untuk memprediksi hujan lebat dan mengambil tindakan preventif.
    • Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat: Mengedukasi masyarakat tentang cara menghadapi banjir dan mengurangi dampaknya.

Selain itu, pemerintah juga perlu meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak, termasuk dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), untuk memonitor cuaca dengan lebih tepat dan memberikan peringatan dini.

Kesimpulan dan Pesan untuk Masyarakat

Banjir di Petogogan adalah contoh dari masalah yang terus berulang di Jakarta. Meskipun upaya penanggulangan bencana telah dilakukan, langkah-langkah jangka panjang masih diperlukan untuk mengurangi risiko banjir di masa depan.

Untuk masyarakat, penting untuk selalu siap menghadapi banjir dengan menyiapkan peralatan darurat, seperti pompa air, dan memantau informasi cuaca. Selain itu, warga juga diharapkan untuk tidak membuang sampah ke sungai atau saluran drainase, karena hal ini dapat memicu banjir.

Dengan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak, Jakarta dapat menjadi kota yang lebih tahan banjir dan lebih ramah lingkungan.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *