Operasi Terpadu BNPB dan BMKG untuk Mengendalikan Curah Hujan Ekstrem
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat, bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), telah meluncurkan operasi modifikasi cuaca (OMC) setelah menerima peringatan dini cuaca ekstrem. Ini merupakan langkah strategis untuk mengurangi dampak banjir dan longsor yang terus mengancam wilayah tersebut.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa operasi ini merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto. “Curah hujan tinggi diperkirakan mengguyur Jawa Barat dan Jakarta pada periode dasarian kedua dan ketiga bulan Januari 2026,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 24 Januari 2026.
Armada Pesawat yang Dikerahkan untuk Operasi Modifikasi Cuaca
Sejak 12 Januari 2026, BNPB telah mengerahkan dua unit pesawat untuk operasi modifikasi cuaca. Pesawat Cessna Carravan (PK-JVH) dari BNPB dan CASA 212 A-2105 dari BPBD DKI Jakarta beroperasi dari Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Untuk meningkatkan efektivitas, BNPB menambah tiga unit pesawat Carravan (PK-YNA, PK-SNG, dan PK-SNK) sejak 23 Januari 2026.
Pesawat PK-SNK khususnya beroperasi dari Lanud Hussein Sastranegara di Bandung untuk mencakup operasi di area hulu. Dengan demikian, total lima armada pesawat saat ini dikerahkan untuk mengamankan langit Jakarta dan Jawa Barat. Operasi ini juga dapat diperluas ke wilayah Provinsi Banten jika terjadi peningkatan potensi cuaca ekstrem.
- Pesawat Cessna Carravan (PK-JVH) dari BNPB
- Pesawat CASA 212 A-2105 dari BPBD DKI Jakarta
- Pesawat Carravan (PK-YNA, PK-SNG, PK-SNK) dari BNPB
Strategi dan Dampak Operasi Modifikasi Cuaca
Hingga Jumat, 23 Januari 2026, total sorti penerbangan lima armada pesawat sebanyak 70 sorti. Bahan semai yang telah ditaburkan mencapai 43,8 ton Natrium Klorida (NaCl) dan 20,6 ton Kalsium Oksida (CaO). Operasi modifikasi cuaca juga dilakukan di wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Jawa Tengah.
Di provinsi terdampak banjir dan longsor Sumatera, BNPB menyiagakan masing-masing provinsi satu unit pesawat. Base operasi OMC Sumatera antara lain Lanud Sultan Iskandar Muda di Aceh, Bandara Kualanamu Medan, dan Bandara Internasional Minangkabau di Padang. Untuk operasi penanganan darurat Jawa Tengah, dua unit pesawat Carravan dengan base operasi di Lanud Ahmad Yani Semarang.
Operasi modifikasi cuaca di wilayah tersebut bertujuan untuk mengeringkan wilayah terdampak banjir dan longsor, mempercepat proses pemulihan pascabencana seperti perbaikan tanggul, pembersihan lingkungan, dan pembangunan hunian sementara.
Peringatan BMKG dan Imbas Bencana Hidrometeorologi
Berdasarkan rilis BMKG, pada dasarian tiga bulan Januari 2026, hujan akan terjadi cukup merata di beberapa daerah di Indonesia. Wilayah yang diprediksi akan dominan mengalami hujan pada kategori Menengah (50-150 mm per dasarian) antara lain Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua, Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Selatan.
Sementara itu, wilayah yang akan mengalami hujan kategori tinggi (150-300 mm per dasarian) antara lain Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. Peringatan curah hujan dengan kategori sangat tinggi (lebih dari 300 mm per dasarian) antara lain di Maros, Sulawesi Selatan.
BNPB mengimbau kepada masyarakat untuk memperhatikan prakiraan cuaca harian sebelum beraktivitas dan juga peringatan dini cuaca ekstrem melalui sumber yang terpercaya. “Untuk masyarakat yang tinggal di wilayah rawan banjir hendaknya meningkatkan kesiapsiagaan dengan menyimpan barang berharga di tempat yang lebih aman, menyiapkan tas siaga bencana, dan menentukan titik evakuasi keluarga,” ujar Abdul.
Masyarakat yang tinggal di sekitar lereng atau tebing yang berisiko longsor diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama, serta segera melakukan evakuasi mandiri apabila kondisi dinilai tidak aman.





