Beranda / Berita Umum / Bencana Longsor Cisarua: Tragedi, Tanggapan Pemerintah, dan Tantangan Identifikasi Korban

Bencana Longsor Cisarua: Tragedi, Tanggapan Pemerintah, dan Tantangan Identifikasi Korban

Bencana Longsor Cisarua Tragedi Tanggapan Pemerintah dan Tantangan Identifikasi Korban

Pembukaan: Tragedi Longsor yang Mengguncang Cisarua

Longsor besar yang melanda Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada dini hari 23 Januari 2026 telah menelan korban jiwa dan materi yang besar. Bencana ini, yang dipicu oleh hujan lebat, telah mengakibatkan longsor tanah dan banjir bandang yang merusak permukiman warga, menimbun rumah, dan memutus akses jalan. Hingga saat ini, operasi pencarian dan evakuasi korban masih berlangsung dengan intensitas tinggi.

Jumlah Korban dan Proses Identifikasi

Menurut data yang disampaikan oleh Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Hendra Rochmawan, tim gabungan telah berhasil mengevakuasi 25 jenazah korban longsor. Dari jumlah tersebut, 11 jenazah telah diidentifikasi, dengan 10 dalam kondisi utuh dan satu melalui potongan tubuh. Proses identifikasi dilakukan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri dengan prinsip ketelitian ilmiah.

Identifikasi korban yang telah dilakukan meliputi:

    • Suryana (57)
    • Jajang Tarta (35)
    • Dadang Apung (60)
    • Nining (40)
    • Nurhayati (42)
    • Lina Lismayanti (43)
    • A.I. Sumarni (35)
    • Koswara (40)
    • Koswara (26)
    • Ayu Yuniarti (31)
    • M. Kori (30) – teridentifikasi melalui potongan tangan

    Proses identifikasi menjadi lebih sulit ketika jenazah dalam kondisi rusak atau berupa potongan tubuh tertentu. Tim DVI harus melakukan pemeriksaan post mortem dan ante mortem untuk memastikan keakuratan data.

    Operasi Pencarian dan Tanggapan Pemerintah

    Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menyatakan bahwa pemerintah mengutamakan penyelamatan jiwa dalam penanganan bencana ini. Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) dilakukan 24 jam non-stop karena masih ada sekitar 80 warga yang dalam pencarian. Pemerintah daerah Jawa Barat telah menetapkan Status Tanggap Darurat selama 14 hari untuk memastikan penanganan bencana dilakukan secara cepat, terpadu, dan terkoordinasi.

    Dalam penanganan bencana ini, pemerintah mengerahkan lima klaster utama di lapangan, yaitu:

    • Klaster SAR, yang dipimpin Basarnas bersama TNI, Polri, BNPB, dan BPBD, mengerahkan lebih dari 250 personel serta alat berat.
    • Klaster Kesehatan, yang menyediakan pos kesehatan lapangan dengan layanan 24 jam, ambulans siaga, dan layanan kesehatan jiwa.
    • Klaster Logistik, yang memastikan ketersediaan bantuan sembako, makanan siap saji, selimut, dan tenda darurat bagi para pengungsi.
    • Klaster Pengungsian dan Perlindungan, yang melibatkan Kementerian Sosial, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten.
    • Klaster Pemulihan, yang disiagakan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan dasar sekaligus mencegah bencana susulan.

    Pratikno juga menekankan pentingnya pencegahan bencana susulan dan koordinasi intensif dengan pemerintah daerah untuk menyiapkan langkah-langkah lanjutan, termasuk rencana relokasi warga terdampak.

    Tantangan dalam Proses Identifikasi dan Evakuasi

    Proses identifikasi korban menjadi lebih sulit ketika jenazah dalam kondisi rusak atau berupa potongan tubuh tertentu. Tim DVI harus melakukan pemeriksaan post mortem dan ante mortem untuk memastikan keakuratan data. Proses ini dapat dilakukan lebih cepat apabila kondisi jenazah dalam keadaan utuh dan memiliki identitas pendukung.

    Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, serta unsur relawan lainnya telah menghentikan sementara proses pencarian dan evakuasi akibat kondisi lapangan. Operasi pencarian akan kembali dilanjutkan pada hari berikutnya. Hingga kini, masih terdapat korban yang diduga tertimbun dan belum berhasil dievakuasi.

    Dampak Bencana dan Tanggapan Masyarakat

    Bencana longsor ini telah menimbulkan dampak yang besar bagi warga setempat. Rumah-rumah hancur, infrastruktur rusak, dan banyak warga yang kehilangan keluarga atau rumah. Pemerintah daerah dan pusat telah berupaya untuk memberikan bantuan dan dukungan kepada para pengungsi.

    Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Hendra Rochmawan, memohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat agar seluruh personel SAR, TNI-Polri, tenaga medis, relawan, rekan media, serta keluarga korban yang menanti kabar diberikan kekuatan dan keselamatan selama proses kemanusiaan ini berlangsung.

    Kesimpulan dan Rekomendasi

    Bencana longsor Cisarua menjadi peringatan serius bagi pemerintah dan masyarakat tentang pentingnya persiapan dan mitigasi bencana. Pemerintah harus terus meningkatkan sistem peringatan dini, infrastruktur pengendalian banjir, dan relokasi warga di kawasan rawan bencana. Selain itu, dukungan psikologis dan sosial bagi korban dan keluarga juga harus menjadi prioritas.

    Kesimpulan dari bencana ini adalah bahwa penanganan bencana harus dilakukan secara holistik, dengan koordinasi yang baik antara pemerintah pusat, daerah, dan berbagai pihak terkait. Hanya dengan demikian, bencana seperti ini dapat diminimalkan dampaknya dan korban jiwa dapat diturunkan.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *