Beranda / Berita Lokal / Bencana Longsor Cisarua: Tragedi, Pencarian, dan Pertanyaan yang Menghantam

Bencana Longsor Cisarua: Tragedi, Pencarian, dan Pertanyaan yang Menghantam

Bencana Longsor Cisarua Tragedi Pencarian dan Pertanyaan yang Menghantam

Pembukaan: Tragedi yang Menyedot Jiwa

Tanah longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, telah menelan 25 nyawa hingga Minggu, 25 Januari 2026. Namun, 65 korban masih tertimbun di bawah lumpur dan puing-puing, sementara 23 orang berhasil diselamatkan. Bencana ini bukan hanya tentang angka-angka, tetapi tentang kisah-kisah manusia yang terperangkap dalam bencana alam yang tak terduga.

Operasi SAR: Kegigihan di Tengah Hujan Deras

Tim Search and Rescue (SAR) gabungan telah berjuang di medan yang sulit, dengan hujan deras yang menghambat operasi pencarian. Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian, mengumumkan penangkaran pencarian pada hari kedua pukul 16.00 WIB karena cuaca yang tidak mendukung.

“Dari pukul 16.00 WIB, kami menghentikan pencarian karena cuaca yang tidak mendukung (hujan deras) dan akan dilanjutkan besok,” ujarnya. Pencarian difokuskan pada sektor A dan B, tempat banyak korban terperangkap berdasarkan informasi warga.

Tim SAR juga bekerja sama dengan masyarakat sekitar untuk mempercepat proses evakuasi. Hingga saat ini, 25 kantong jenazah telah diserahkan kepada tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri.

Identifikasi Korban: Nama-Nama yang Harus diingat

Dari 25 jenazah yang ditemukan, 11 telah diidentifikasi. Mereka adalah Suryana (57), Jajang Tarta (35), Dadang Apung (60), Nining (40), Nurhayati (42), Lina Lismayanti (43), M. Kori (30) yang teridentifikasi dari potongan tubuh berupa tangan, Ai Sumarni (35), Koswara (40), Koswara (26), dan Ayu Yuniarti (31).

Tim DVI masih bekerja keras untuk mengidentifikasi 10 jenazah utuh dan satu bagian tubuh lainnya. Proses ini melibatkan pemeriksaan post mortem dan ante mortem untuk memastikan identitas korban.

Peran Polri dan TNI: Sinergi dalam Bencana

Polri tidak hanya hadir dalam penegakan hukum, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam misi kemanusiaan. Kombes Pol. Hendra Rochmawan, Kabid Humas Polda Jawa Barat, menegaskan bahwa Polri akan terus bersinergi dengan TNI, Basarnas, BNPB, BPBD, pemerintah daerah, dan relawan hingga seluruh korban ditemukan.

Untuk membantu pencarian, Polri mengerahkan 20 personel Detasemen K9 Unit SAR Direktorat Polisi Satwa Korps Sabhara Baharkam, dipimpin oleh IPTU Erasmus. Tim ini didukung oleh enam ekor satwa pelacak K9: Walet, Ari, Rubin, Dasa, Gyra, dan Sita, yang memiliki keahlian dalam pencarian korban meninggal dunia.

Analisis: Mengapa Longsor Ini Terjadi?

Longsor di Cisarua bukanlah kejadian spontan. Beberapa faktor yang mungkin memicu bencana ini:

    • Curah hujan yang ekstrim, yang telah melampaui ambang batas normal.

    • Deforestasi di daerah sekitar, yang merosot daya dukung tanah.

    • Konstruksi tidak terkontrol di daerah lereng yang rawan longsor.

    • Sistem peringatan dini yang mungkin tidak optimal.

    Bencana ini mengungkapkan kelemahan dalam manajemen risiko bencana di Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang rentan longsor.

    Kesimpulan: Apa yang Harus Dibelajari?

    Tragedi Cisarua bukan hanya tentang korban yang jatuh, tetapi tentang pelajaran yang harus diambil. Pemerintah, masyarakat, dan pihak berwenang harus bekerja sama untuk:

    • Meningkatkan sistem peringatan dini.

    • Menguatkan regulasi dalam pengelolaan lahan.

    • Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang risiko bencana.

    • Membangun infrastruktur yang lebih tangguh di daerah rawan bencana.

Hanya dengan langkah-langkah konkret, bencana seperti ini dapat dicegah di masa depan.

Partner Network: larphof.detukangroot.comcapi.biz.id
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *