Pendahuluan: Tragedi yang Menimpa Misi Kemanusiaan
Sabtu, 24 Januari 2026, menjadi hari yang gelap bagi dua anggota Kepolisian Sektor Cisarua. Dua pejabat polisi, Ajun Inspektur Satu Hendra Kurniawan dan Ajun Inspektur Dua Muhammad Jerry Sonconer, tewas setelah truk milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) menabrak mereka di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Insiden ini terjadi saat rombongan kendaraan dinas TNI sedang menuju lokasi bencana banjir bandang dan tanah longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu.
Kecelakaan ini tidak hanya mengakibatkan korban jiwa, tetapi juga memicu pertanyaan tentang koordinasi antara TNI dan Polri, serta prosedur keamanan dalam misi kemanusiaan. Artikel ini akan mengungkap detail insiden, analisis keterlibatan kedua instansi, dan implikasi lebih lanjut dari peristiwa ini.
Kronologi Insiden: Apa yang Sesungguhnya Terjadi?
Menurut keterangan Panglima Kodam III/Siliwangi, Mayor Jenderal Kosasih, kecelakaan terjadi saat salah satu truk TNI mengalami gangguan teknis, yang kemudian memicu tabrakan beruntun. Dua anggota polisi yang sedang mengawal rombongan turut terdampak. “Kecelakaan ini mengakibatkan gugurnya dua anggota polisi… yang gugur saat menjalankan tugas,” kata Kosasih.
Insiden ini terjadi di tengah upaya penanggulangan bencana yang telah mengakibatkan 25 korban jiwa dan 65 warga hilang. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menerjunkan Tim Reaksi Cepat dan melakukan operasi modifikasi cuaca untuk mengantisipasi bencana susulan.
Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat, Inspektur Jenderal Rudi Setiawan, menegaskan tidak ditemukan unsur kesengajaan dalam insiden ini. “Seluruh rangkaian kejadian dinyatakan sebagai kecelakaan murni,” katanya.
Respons TNI dan Polri: Komitmen atau Damai?
TNI AD menyatakan belasungkawa dan komitmen untuk mendukung penyelidikan. Kepala Dinas Penerangan TNI AD, Brigadir Jenderal Donny Pramono, menyampaikan bahwa Kodam III/Siliwangi berkomitmen menghormati dan mendukung penanganan insiden secara profesional. “Kodam III/Siliwangi menyatakan komitmennya untuk menghormati dan mendukung penuh proses penanganan insiden tersebut secara profesional dan objektif,” katanya.
Polri, melalui Kapolda Jawa Barat, juga menyatakan dukungan penuh terhadap proses penyelidikan. Namun, beberapa analis meragukan apakah komitmen ini cukup untuk memastikan transparansi dan keadilan. “Komitmen semacam ini sering menjadi kosmetik jika tidak diikuti dengan tindakan konkret,” kata seorang analis keamanan yang tidak ingin disebutkan nama.
Implikasi Hubungan TNI-Polri: Sinergi atau Konflik?
Insiden ini mengungkapkan kembali isu koordinasi antara TNI dan Polri. Meskipun kedua instansi sering bekerja sama dalam misi kemanusiaan, insiden seperti ini menunjukkan bahwa kerjasama masih memiliki celah. “Hubungan TNI-Polri sering digambarkan sebagai solid, tetapi insiden ini menunjukkan bahwa ada masalah dalam komunikasi dan koordinasi,” kata seorang ahli hubungan internasional.
Selain itu, insiden ini juga mengangkat kembali kontroversi tentang kewenangan dan tanggung jawab masing-masing instansi dalam penanganan bencana. “Siapa yang seharusnya bertanggung jawab? TNI karena kendaraan mereka yang menyebabkan kecelakaan, atau Polri karena anggota mereka yang menjadi korban?” tanya seorang pengamat hukum.
Analisis Teknis: Apa yang Salah dengan Truk TNI?
Menurut laporan awal, truk TNI mengalami gangguan teknis yang memicu tabrakan. Namun, detail teknis tentang gangguan tersebut belum diungkapkan. “Gangguan teknis seperti apa yang terjadi? Apakah itu kerusakan mekanis, kesalahan operator, atau faktor lain?” tanya seorang ahli transportasi.
Analisis lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apakah ada kesalahan teknis yang dapat dihindari. “Jika ternyata ada kesalahan yang dapat dihindari, maka ini bukan hanya masalah kecelakaan, tetapi juga masalah manajemen risiko,” tambahnya.
Kemajuan Penyelidikan: Apa yang Dapat Diharapkan?
Kedua instansi telah menyatakan dukungan penuh terhadap proses penyelidikan. Namun, apa yang sebenarnya dapat diharapkan dari proses ini? “Penyelidikan harus transparan dan independen. Jika tidak, ini hanya akan menjadi upaya untuk menyembunyikan kebenaran,” kata seorang aktivis hak asasi manusia.
Penyelidikan juga harus mempertimbangkan faktor-faktor lain, seperti kondisi jalan, cuaca, dan prosedur keamanan yang berlaku saat itu. “Semua faktor harus dianalisis untuk memastikan bahwa insiden seperti ini tidak terjadi lagi,” kata seorang ahli keamanan.
Kesimpulan: Sebuah Panggilan untuk Reformasi
Tragedi Cisarua bukan hanya tentang kecelakaan lalu lintas, tetapi juga tentang koordinasi, transparansi, dan tanggung jawab. Insiden ini mengungkapkan bahwa ada banyak area yang perlu diperbaiki dalam penanganan bencana dan kerja sama antara TNI dan Polri.
Sebagai langkah selanjutnya, diperlukan reformasi dalam prosedur keamanan, komunikasi antar instansi, dan transparansi dalam penyelidikan. “Ini adalah kesempatan untuk belajar dan meningkatkan sistem, bukan hanya untuk menyalahkan pihak tertentu,” kata seorang ahli kebijakan.
Dengan demikian, Tragedi Cisarua harus menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk meningkatkan kerja sama dan memastikan bahwa misi kemanusiaan dapat berjalan dengan aman dan efektif.





