Blackout Massal Melanda Nuuk, Ibu Kota Greenland
Pemadaman listrik besar-besaran (blackout massal) telah melanda Nuuk, ibu kota Greenland, sejak Sabtu, 24 Januari 2026, pukul 22.30 waktu setempat. Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan gangguan operasional, tetapi juga menjadi sorotan dunia internasional, terutama dalam konteks isu pencaplokan wilayah oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Menurut laporan dari perusahaan utilitas negara, penyebab utama blackout adalah gangguan pada jalur transmisi listrik utama akibat angin kencang. Angin tersebut mengganggu pembangkit listrik tenaga air Buksefjord, menyebabkan “line error” pada saluran transmisi. Akibatnya, listrik tidak bisa dikirim dengan lancar ke kota, meskipun PLTA tetap beroperasi.
Perusahaan utilitas negara segera melakukan langkah sigap dengan menyalakan pembangkit darurat. Pada pukul 03.30 hari Minggu (25/1/2026), listrik telah kembali menyala untuk sekitar 75 persen penduduk Nuuk. Namun, masalah utama belum teratasi, sehingga masyarakat diminta untuk hemat menggunakan listrik. Selain itu, beberapa wilayah juga mengalami gangguan pada pasokan air dan koneksi internet.
Pemerintah Greenland Siap Hadapi Bencana
Bersamaan dengan blackout, pemerintah Greenland merilis brosur kesiapsiagaan bencana. Dokumen tersebut mendorong masyarakat untuk menyimpan air minum, makanan, obat-obatan, pakaian hangat, dan alat komunikasi alternatif untuk setidaknya lima hari.
Pemerintah menegaskan bahwa panduan ini bukan berarti ada krisis yang akan segera terjadi, melainkan sebagai langkah preventif. Namun, kebijakan ini menimbulkan spekulasi tentang kestabilan wilayah tersebut, terutama dalam konteks isu pencaplokan oleh Amerika Serikat.
Isu Pencaplokan Greenland: Trump dan Kesepakatan NATO
Presiden Donald Trump telah mengumumkan bahwa ia telah mencapai “kerangka kesepakatan” dengan NATO terkait Greenland. Namun, ia belum memberikan rincian konkret, dan sampai saat ini belum ada kontrak resmi yang ditandatangani.
Menurut sumber resmi AS, inti dari kesepakatan potensial adalah memberikan akses total bagi Amerika Serikat ke wilayah tertentu di Greenland tanpa batas waktu, termasuk jika Greenland suatu saat merdeka dari Denmark. Ini berarti AS ingin memastikan hak operasionalnya tetap berlaku “selamanya” atau “untuk selamanya”.
Diskusi yang sedang berjalan mencakup beberapa hal penting:
- Kemungkinan penambahan pasukan militer AS di Greenland, sesuai perjanjian pertahanan 1951 antara AS dan Denmark.
- Akses AS ke sumber daya alam Greenland, termasuk mineral tanah jarang yang sangat strategis.
- Upaya NATO dan Eropa untuk meningkatkan keamanan kawasan Arktik, termasuk memperkuat kemampuan AS untuk mencegah pengaruh negara lain di Greenland.
Reaksi Dunia dan Implikasi Strategis
Isu pencaplokan Greenland oleh Amerika Serikat telah menimbulkan reaksi dari berbagai pihak. Beberapa negara, terutama di Eropa, khawatir bahwa kehadiran militer AS di wilayah tersebut akan mengganggu keseimbangan kekuatan di kawasan Arktik.
Sementara itu, pemerintah Denmark, yang masih memiliki kekuasaan atas Greenland, belum memberikan tanggapan resmi. Namun, beberapa analis berpendapat bahwa Denmark mungkin akan menolak upaya AS untuk menguasai wilayah tersebut, karena itu akan mengancam kedaulatan Greenland.
Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menyatakan bahwa jika kesepakatan ini terwujud, Amerika Serikat akan mencapai semua tujuan strategisnya terkait Greenland dengan biaya yang sangat kecil. Namun, banyak yang meragukan apakah kesepakatan ini akan segera terwujud, karena masih banyak hal yang perlu diselesaikan.
Dari sisi lainnya, blackout massal di Nuuk juga menjadi sorotan. Beberapa pihak mengaitkan peristiwa ini dengan isu pencaplokan, meskipun tidak ada bukti yang mengaitkan keduanya. Namun, kehadiran militer AS di wilayah tersebut pastinya akan mempengaruhi stabilitas infrastruktur dan keamanan wilayah.
Dalam konteks ini, Greenland menjadi arena perjuangan strategis antara Amerika Serikat, NATO, dan negara-negara Eropa. Apakah kesepakatan Trump akan berhasil? Apa implikasi bagi kedaulatan Greenland? Semua ini masih menjadi pertanyaan yang menantang.





