Gempa bumi yang mengguncang Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Selasa (27/1) siang telah menimbulkan panik di kalangan warga. Gempa berkekuatan magnitudo 4,5 ini, yang berpusat 16 kilometer timur Kabupaten Bantul, membuat banyak orang berlarian keluar bangunan. Getaran yang dirasakan cukup kuat, meski hanya berlangsung beberapa detik, telah menimbulkan kegaduhan di beberapa tempat di Yogyakarta.
Menariknya, gempa ini tidak hanya dirasakan di Bantul, tetapi juga di wilayah sekitarnya seperti Sleman, Gunungkidul, dan bahkan hingga Solo. Warga yang sedang beraktivitas di berbagai tempat, mulai dari kantor hingga kafe, terkejut saat gempa terjadi. Beberapa di antaranya sempat lari keluar bangunan, sementara yang lain tetap berada di tempatnya meski terkejut.
“Tadi gempa terasa kencang, meski cuma beberapa detik. Badan seperti didorong tadi,” ucap Novan Dwi Setiyanto, seorang pegawai perusahaan di Kota Yogyakarta. Dia mengaku sebagian rekan kerjanya sempat berlari keluar kantor saat gempa terjadi. “Sebagian teman-teman tadi berlari keluar kantor. Saya tidak sampai keluar,” tambahnya.
Sementara itu, Seto Pangaribowo, yang sedang berada di sebuah kafe di Kota Yogyakarta, mengaku suasana sempat gaduh karena pengunjung terkejut. “Saat bersama teman-teman di kafe pada kaget, aku nyaris lari,” ujarnya. Di sisi lain, Tria, warga Seyegan, Kabupaten Sleman, mengaku merasakan getaran gempa saat berada di kamar mandi sehingga tidak sempat berlari keluar rumah. Meski begitu, sejumlah tetangga rumahnya berhamburan keluar rumah.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa bumi ini merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas Sesar Opak. Kepala Stasiun Geofisika Sleman, Ardhianto Septiadhi, menjelaskan episenter gempa terletak di koordinat 7,87 derajat Lintang Selatan (LS) dan 110,49 derajat Bujur Timur (BT), tepatnya di darat pada jarak 16 kilometer arah timur Bantul, DIY, dengan kedalaman 11 kilometer.
“Gempa ini dirasakan di Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman, Kota Yogyakarta, dan Klaten, dengan skala intensitas III MMI atau getaran dirasakan seperti truk bermuatan melintas,” ujar Ardhianto. Sementara di wilayah lain seperti Wonogiri, Purworejo, Trenggalek, Solo, Pacitan, dan Magelang, gempa dirasakan dengan skala intensitas II MMI atau dirasakan oleh sedikit orang dan benda ringan yang digantung bergoyang.
Yang mengejutkan, hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut. “Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” katanya. Namun, BMKG tetap memantau perkembangan situasi untuk memastikan tidak terjadi dampak lain.
Gempa Dangkal Bantul: Apa yang Menyebabkannya?
Gempa yang terjadi di Bantul, DIY, diklasifikasikan sebagai gempa dangkal. Berdasarkan keterangan BMKG, gempa ini disebabkan oleh aktivitas Sesar Opak, salah satu sesar aktif yang terletak di wilayah Yogyakarta. Sesar ini telah menjadi sumber gempa yang sering terjadi di daerah tersebut.
“Gempa ini terjadi pada kedalaman 11 kilometer, yang menjadikannya sebagai gempa dangkal,” jelas Ardhianto. Gempa dangkal biasanya memiliki intensitas yang lebih kuat dibandingkan dengan gempa dalam, karena getarannya lebih mudah merambat ke permukaan bumi. Hal ini menyebabkan gempa ini dirasakan oleh banyak warga di wilayah sekitar.
Menurut data BMKG, gempa dengan magnitudo 4,5 seperti ini biasanya tidak akan menimbulkan kerusakan yang signifikan. Namun, getaran yang kuat dapat menyebabkan panik di kalangan warga, terutama bagi mereka yang tidak terlalu terbiasa dengan gempa.
Respon Warga Yogyakarta: Panik dan Kegaduhan
Gempa yang terjadi Selasa siang telah menimbulkan respon yang beragam di kalangan warga Yogyakarta. Beberapa orang langsung berlarian keluar bangunan, sementara yang lain tetap berada di tempatnya meski terkejut. Novan, salah satu pegawai perusahaan di Kota Yogyakarta, mengaku merasakan getaran yang cukup kuat.
“Tadi gempa terasa kencang, meski cuma beberapa detik. Badan seperti didorong tadi,” ucap Novan. Dia juga mengatakan bahwa sebagian rekan kerjanya sempat berlari keluar kantor saat gempa terjadi. “Sebagian teman-teman tadi berlari keluar kantor. Saya tidak sampai keluar,” tambahnya.
Di sisi lain, Seto Pangaribowo, yang sedang berada di sebuah kafe di Kota Yogyakarta, mengaku suasana sempat gaduh karena pengunjung terkejut. “Saat bersama teman-teman di kafe pada kaget, aku nyaris lari,” ujarnya. Tria, warga Seyegan, Kabupaten Sleman, mengaku merasakan getaran gempa saat berada di kamar mandi sehingga tidak sempat berlari keluar rumah. Meski begitu, sejumlah tetangga rumahnya berhamburan keluar rumah.
BMKG: Gempa Bantul Tidak Berpotensi Tsunami
Berdasarkan hasil analisis BMKG, gempa yang mengguncang Bantul, DIY, tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Hal ini karena gempa ini terjadi di darat, bukan di perairan. “Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” ujar Ardhianto.
BMKG juga menjelaskan bahwa gempa ini memiliki skala intensitas III MMI di wilayah Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman, Kota Yogyakarta, dan Klaten. Di wilayah lain seperti Wonogiri, Purworejo, Trenggalek, Solo, Pacitan, dan Magelang, gempa dirasakan dengan skala intensitas II MMI.
Hingga saat ini, belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut. Namun, BMKG tetap memantau perkembangan situasi untuk memastikan tidak terjadi dampak lain. “Kami akan terus memantau situasi dan memberikan informasi terbaru kepada masyarakat,” ujar Ardhianto.
FAQ
1. Apa yang menyebabkan gempa di Bantul, DIY?
Gempa di Bantul, DIY, disebabkan oleh aktivitas Sesar Opak, salah satu sesar aktif yang terletak di wilayah Yogyakarta. Gempa ini diklasifikasikan sebagai gempa dangkal dengan kedalaman 11 kilometer.
2. Apakah gempa ini berpotensi menimbulkan tsunami?
Tidak, gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami karena terjadi di darat, bukan di perairan.
3. Apa yang harus dilakukan saat terjadi gempa?
Saat terjadi gempa, sebaiknya Anda berlindung di bawah meja atau di sudut bangunan yang aman. Jangan panik dan tetap tenang. Jika berada di luar, hindari bangunan dan kabel listrik yang tergantung.
Artikel ini disarikan dari berbagai sumber berita nasional. Seluruh penyajian dan analisis merupakan pendapat menurut cara pandang kami, tanpa bermaksud menyudutkan atau merugikan pihak manapun.





