Kasus Hogi Minaya, warga Sleman yang menjadi tersangka atas kematian dua orang penjambret, kembali menjadi sorotan publik. Dalam rapat dengan Komisi III DPR RI, pengacara Hogi dan kepolisian Sleman menyajikan kronologi peristiwa yang berbeda. Apa yang sebenarnya terjadi di Jalan Jogja-Solo pada April 2023? Dan mengapa kasus ini memicu kemarahan publik?
Pertemuan Tak Terduga di Turunan Fly Over Janti
Semua dimulai dari pertemuan tak terduga. Arsita Ningtyas, istri Hogi, sedang mengantar pesanan snack ke hotel Grand Diamond di Jalan Jogja-Solo. Di turunan fly over Janti, ia bertemu dengan suaminya yang juga hendak mengantar pesanan. “Tidak disangka, tidak diduga tiba-tiba bertemu Mas Hogi,” kata pengacara Hogi, Teguh Sri, dalam rapat dengan Komisi III DPR RI.
Arsita mengendarai sepeda motor, sementara Hogi menggunakan mobil. Mereka berdua sama-sama menuju hotel Grand Diamond.
Tiba-tiba, dua orang berboncengan mendekati Arsita.
Jambret yang Menyita Tas Snack
Dua pria itu mengambil tas yang ada di dalam dagangan Arsita dengan menggunakan pisau kecil serbaguna atau cutter. Arsita berteriak adanya jambret. Hogi, yang melihat kejadian itu dari mobilnya, segera mengejar penjambret tersebut.
Menurut Teguh, Hogi mengejar penjambret karena ingin menyelamatkan tas istrinya yang diambil penjambret. “Mas Hogi melakukan pengejaran terhadap jambret kan ada sebab musababnya, ada causa,” katanya.
Teguh menjelaskan, isi tas tersebut tidak hanya berisi uang, tetapi juga tagihan terkait pesanan snack yang harus diselamatkan.
Kejaran yang Berakhir Tragis
Pengejaran itu berakhir tragis. Penjambret justru semakin kencang mengendarai sepeda motornya, hingga terjadi kontak dengan kendaraan yang dipacu Hogi. “Sehingga terjadi body contact begitu, kemudian penjambret ini sepeda motornya masuk ke jalur trotoar yang kemudian menabrak tembok kemudian terpental dan ke aspal,” jelas Teguh.
Yang mengejutkan, pembonceng masih menggenggam cutter dalam kondisi tidak sadar diri.
Versi Polres Sleman: Penganiayaan Tak Terbukti
Kapolresta Sleman Kombes Pol Edy Setyanto menyajikan kronologi peristiwa yang berbeda. Ia mengatakan ada dua peristiwa yakni dugaan tindak pidana pencurian dengan kekerasan, dan kecelakaan lalu lintas dua orang meninggal dunia sebagai buntut dari aksi kejar-kejaran atas peristiwa penjambretan.
Edy mengatakan, dalam proses penyelidikan ada informasi dari paman para penjambret soal dugaan tindakan penganiayaan yang dilakukan Hogi. “Terdapat penganiayaan dengan cara pengemudi mundur mobilnya lalu turun dan menendang korban yang sudah terkapar,” kata Edy.
Namun, berdasarkan rekaman kamera pengawas (CCTV) yang didapati penyelidik, dugaan penganiayaan oleh Hogi itu tak terbukti.
CCTV Sebagai Bukti Kunci
Edy mengatakan penyidik juga mendapatkan dua CCTV dalam peristiwa lakalantas. Terlihat dari dua rekaman CCTV bahwa dari sudut depan terjadinya kecelakaan. “Kemudian adanya dua temuan CCTV tersebut, penyidik meminta pendapat ahli dengan hasil bahwa menurut pendapat ahli, causa meninggalnya kedua korban adalah sebab ditabrak dari belakang dengan kecepatan tinggi,” kata Edy.
Menurut Edy, causa meninggalnya kedua korban adalah sebab ditabrak dari belakang dengan kecepatan tinggi. Sehingga selain motornya terbang, kedua korban juga turut terpental dari motornya dan menabrak tembok.
Kontroversi Penetapan Hogi sebagai Tersangka
Kasus Hogi menjadi tersangka karena membela istrinya yang dijambret bisa disetop demi hukum berdasarkan peraturan perundang-undangan terkait pidana. Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman menegaskan tak perlu metode keadilan substantif (restorative justice/RJ) untuk penyelesaian kasus yang terjadi di Sleman, DI Yogyakarta tersebut.
Habib menegaskan, peristiwa itu telah memicu kemarahan publik. “Ini publik marah, pak, kami juga marah. Sulit sekali situasinya, pak, kita ini mitra pak, bagus mitra, bagus kami. Mitra jelek kami ikut jelek,” kata politikus Gerindra itu.
Praktik seperti ini [peristiwa di Sleman] membuat kami kecewa,” sambungnya.
Analogi: Hogi Sebagai Prajurit Tanpa Senjata
Kasus Hogi bisa dibandingkan dengan seorang prajurit yang tanpa senjata menghadapi musuh. Ia hanya ingin melindungi istri dan properti miliknya. Namun, tindakannya yang berlebihan justru menimbulkan korban jiwa. Apakah Hogi benar-benar bersalah? Atau ia hanya korban situasi yang melampaui?
Menariknya, kasus ini mengungkapkan ketidakadilan yang mungkin terjadi dalam sistem peradilan. Hogi, yang hanya ingin melindungi istri dan properti miliknya, justru dituduh sebagai pelaku kejahatan. Ini mengingatkan pada kasus-kasus lain di mana korban justru menjadi tersangka.
Dampak dan Implikasi
Kasus Hogi memiliki dampak yang luas. Terlebih, ia memicu kemarahan publik dan mempertanyakan keadilan sistem peradilan. Kasus ini juga mengungkapkan ketidakadilan yang mungkin terjadi dalam sistem peradilan. Hogi, yang hanya ingin melindungi istri dan properti miliknya, justru dituduh sebagai pelaku kejahatan.
Menurut Habib, praktik seperti ini [peristiwa di Sleman] membuat kami kecewa. Ini mengingatkan pada kasus-kasus lain di mana korban justru menjadi tersangka.
Perspektif Berbeda
Meskipun pengacara Hogi dan kepolisian Sleman menyajikan kronologi peristiwa yang berbeda, keduanya sepakat bahwa kasus ini memiliki dampak yang luas. Kasus ini memicu kemarahan publik dan mempertanyakan keadilan sistem peradilan. Kasus ini juga mengungkapkan ketidakadilan yang mungkin terjadi dalam sistem peradilan.
Menurut Habib, praktik seperti ini [peristiwa di Sleman] membuat kami kecewa. Ini mengingatkan pada kasus-kasus lain di mana korban justru menjadi tersangka.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apa yang sebenarnya terjadi di Jalan Jogja-Solo pada April 2023?
Hogi Minaya, warga Sleman, menjadi tersangka atas kematian dua orang penjambret. Dalam rapat dengan Komisi III DPR RI, pengacara Hogi dan kepolisian Sleman menyajikan kronologi peristiwa yang berbeda. Hogi mengejar penjambret yang mengambil tas istrinya, yang berakhir dengan kecelakaan fatal.
Mengapa kasus ini memicu kemarahan publik?
Kasus ini memicu kemarahan publik karena Hogi, yang hanya ingin melindungi istri dan properti miliknya, justru dituduh sebagai pelaku kejahatan. Ini mengingatkan pada kasus-kasus lain di mana korban justru menjadi tersangka.
Apakah Hogi benar-benar bersalah?
Menurut pengacara Hogi, Hogi hanya ingin menyelamatkan tas istrinya yang diambil penjambret. Namun, tindakannya yang berlebihan justru menimbulkan korban jiwa. Apakah Hogi benar-benar bersalah? Atau ia hanya korban situasi yang melampaui?
Bagaimana dampak kasus ini terhadap sistem peradilan?
Kasus ini mengungkapkan ketidakadilan yang mungkin terjadi dalam sistem peradilan. Hogi, yang hanya ingin melindungi istri dan properti miliknya, justru dituduh sebagai pelaku kejahatan. Ini mengingatkan pada kasus-kasus lain di mana korban justru menjadi tersangka.
Artikel ini disarikan dari berbagai sumber berita nasional. Seluruh penyajian dan analisis merupakan pendapat menurut cara pandang kami, tanpa bermaksud menyudutkan atau merugikan pihak manapun.





