Beranda / Berita Lokal / Bencana Longsor Cisarua: Tragedi, Operasi SAR, dan Tantangan Identifikasi Korban

Bencana Longsor Cisarua: Tragedi, Operasi SAR, dan Tantangan Identifikasi Korban

Bencana Longsor Cisarua Tragedi Operasi SAR dan Tantangan Identifikasi Korban

Pendahuluan: Tragedi Longsor yang Mengguncang Cisarua

Bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, telah menewaskan ratusan jiwa dan meninggalkan ratusan lainnya hilang. Hingga Minggu, 25 Januari 2026, jumlah korban yang ditemukan mencapai 25 orang, sementara 65 korban masih belum ditemukan. Operasi pencarian dan evakuasi yang dilakukan oleh tim Search and Rescue (SAR) gabungan terus berlangsung dengan tantangan yang tidak sedikit.

Operasi SAR Gabungan: Strategi dan Tantangan

Tim SAR gabungan, yang terdiri dari Polri, TNI, Basarnas, BNPB, BPBD, pemerintah daerah, dan relawan, telah melakukan operasi pencarian yang intensif. Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian, menjelaskan bahwa pencarian dihentikan sementara pada hari kedua akibat hujan deras, tetapi akan dilanjutkan pada hari berikutnya.

Pencarian difokuskan pada dua area utama, yaitu Sektor A dan B, khususnya A1, A2, dan B1, berdasarkan informasi dari warga setempat. “Kami memfokuskan pencarian ke dua area tersebut karena banyak korban longsor berada di area tersebut,” kata Ade Dian.

Operasi SAR juga didukung oleh Detasemen K9 Unit SAR Direktorat Polisi Satwa Korps Sabhara Baharkam, yang mengerahkan 20 personel dan enam ekor satwa pelacak K9. Tim ini dilengkapi dengan satu unit truk boks dan empat unit kendaraan ransus Navara K9 untuk mendukung mobilitas dan efektivitas di medan bencana.

Proses Identifikasi Korban: Peran Tim DVI

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat telah berhasil mengidentifikasi 11 dari 25 jenazah yang ditemukan. Identifikasi dilakukan melalui pemeriksaan post mortem dan ante mortem. Korban yang telah teridentifikasi antara lain Suryana (57), Jajang Tarta (35), Dadang Apung (60), Nining (40), Nurhayati (42), Lina Lismayanti (43), M. Kori (30), Ai Sumarni (35), Koswara (40), Koswara (26), dan Ayu Yuniarti (31).

Sementara itu, 10 jenazah utuh dan satu bagian tubuh lainnya masih dalam proses identifikasi. Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol. Hendra Rochmawan, menegaskan bahwa Polri akan terus bersinergi dengan berbagai pihak hingga seluruh korban berhasil ditemukan dan dievakuasi.

Analisis Kemanan dan Strategi Pencarian

Operasi pencarian dan evakuasi dilakukan dengan mengedepankan prinsip keselamatan personel serta ketelitian dalam setiap tahapan kegiatan. Hal ini penting karena medan bencana memiliki tingkat kesulitan tinggi. Tim SAR juga harus menghadapi tantangan cuaca yang tidak mendukung, seperti hujan deras yang dapat mengganggu operasi.

Pengerahan tim K9 SAR menjadi bagian dari langkah strategis untuk mempercepat proses pencarian korban longsor. Satwa pelacak K9 memiliki keahlian utama dalam pencarian korban meninggal dunia atau cadaver search, yang sangat berguna di medan yang sulit diakses.

Dampak Sosial dan Emosional

Bencana longsor ini tidak hanya menewaskan ratusan jiwa, tetapi juga meninggalkan dampak sosial dan emosional yang besar. Keluarga korban yang masih belum ditemukan masih dalam keadaan duka dan ketidakpastian. Operasi pencarian yang terus berlangsung memberikan harapan, tetapi juga menambah beban emosional bagi mereka yang menunggu kabar dari tim SAR.

Tim DVI juga harus menghadapi tantangan dalam memberikan informasi yang akurat dan sensitif kepada keluarga korban. Identifikasi korban yang tepat dan cepat sangat penting untuk memudahkan proses pemakaman dan pemulihan emosional keluarga korban.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Bencana longsor di Cisarua menunjukkan betapa pentingnya persiapan dan koordinasi yang baik dalam menghadapi bencana alam. Operasi SAR gabungan yang terkoordinasi dengan baik telah menunjukkan hasil yang positif, tetapi masih banyak tantangan yang harus diatasi. Rekomendasi yang dapat diberikan adalah untuk meningkatkan persiapan dan koordinasi antara berbagai pihak dalam menghadapi bencana alam di masa depan.

Selain itu, penting juga untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang risiko bencana alam dan cara menghadapinya. Pendidikan dan pelatihan tentang penanganan bencana juga perlu diperkuat agar masyarakat lebih siap menghadapi bencana yang mungkin terjadi di masa depan.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *