Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) hilang kontak dalam penerbangan rute Yogyakarta-Makassar pada Sabtu (17/1) siang. Pesawat yang hilang kontak di Kabupaten Maros itu kemudian dikonfirmasi jatuh dan puing-puingnya ditemukan di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel) sehari kemudian.
Proses Pencarian dan Evakuasi
Proses pencarian terhadap para korban hingga saat ini masih terus dilakukan tim SAR gabungan hingga hari ini, Rabu (21/1). Manifes pesawat itu adalah 7 awak penerbangan, dan tiga penumpang. Hingga Selasa (20/1) kemarin, tim SAR gabungan telah berhasil menemukan dua korban dari insiden nahas tersebut.
Dua jasad korban ditemukan di dalam jurang. Korban pertama berjenis kelamin laki-laki yang ditemukan pada Minggu (18/1). Korban ditemukan pada kedalaman sekitar 200 meter dari puncak gunung. Sementara korban kedua diketahui berjenis kelamin perempuan ditemukan pada Senin (19/1). Korban ditemukan di kedalaman 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung.
Tantangan dalam Proses Evakuasi
Tim SAR gabungan menghadapi situasi sulit dalam proses evakuasi terhadap korban pertama. Tim SAR gabungan harus melakukan teknik rappelling di titik yang tidak jauh dari lokasi awal pesawat jatuh. Sebanyak 10 personel tim SAR gabungan diturunkan ke dasar jurang.
Setibanya, tim melakukan penyisiran dengan berjalan mengikuti celah jalur air sambil menelusuri jejak serpihan pesawat sejauh kurang lebih 200 meter ke arah bawah. Salah satu rescuer Basarnas Makassar yang turun langsung ke jurang, Rusmadi membeberkan selama proses evakuasi yang berlangsung sekitar tiga jam, kondisi cuaca semakin memburuk.
Pencarian Korban Lainnya
Operasi SAR, lanjut Yudhi, tetap diprioritaskan untuk menyelesaikan evakuasi satu korban yang masih dalam perjalanan serta melanjutkan pencarian terhadap korban lainnya yang belum ditemukan. Hingga saat ini, tercatat masih ada delapan korban yang belum ditemukan.
Yudhi berharap cuaca cerah pada pagi hingga siang hari dapat mempercepat proses evakuasi dan pencarian, sehingga seluruh tanggung jawab kemanusiaan ini dapat diselesaikan dengan baik. Anjing pelacak milik Direktorat Samapta Polda Sulawesi Selatan turut dikerahkan mencari korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung.
Jejak Data Smartwatch
Keluarga kopilot Farhan Gunawan dibuat penasaran usai smartwatch milik korban mencatat 13.647 langkah sejak insiden yang menimpa pesawat ATR 42-500. Namun, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI M Syafi’i menyebut rekaman langkah kaki di smartwatch milik kopilot itu bukan terekam setelah pesawat jatuh.
Melainkan data beberapa bulan lalu. Menurut Syafi’i, keluarga Farhan telah menerima penjelasan tersebut. Namun, dia memahami harapan keluarga yang sempat muncul akibat informasi pergerakan langkah kaki tersebut. Dalam proses pencarian, tim SAR gabungan turut menemukan sejumlah barang dan dokumen diduga milik korban kecelakaan pesawat 42-500.
Temuan Barang Korban
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar mengatakan temuan tersebut diperoleh dari hasil penyisiran intensif tim darat di jalur ekstrem antara puncak dan pos 9 jalur pendakian. Tim SAR menemukan berbagai barang yang diduga milik korban, mulai dari dokumen pribadi, dompet, buku catatan, hingga barang elektronik.
Selain itu, juga ditemukan beberapa bagian pesawat seperti pelampung dan fire signal di sekitar bagian kepala pesawat. Seluruh barang dan bagian pesawat yang ditemukan telah diamankan, kata Arif, akan didata serta ditandai titik koordinatnya sesuai prosedur.
Arif menyebut temuan tersebut menjadi petunjuk penting untuk mempersempit area pencarian dan menentukan langkah lanjutan dalam proses evakuasi. Dengan semangat dan kerja sama tim SAR gabungan, diharapkan proses pencarian dan evakuasi korban dapat selesai dengan baik dan seluruh korban dapat ditemukan.
Proses pencarian yang masih berlangsung saat ini membutuhkan ketekunan dan kesabaran dari tim SAR gabungan. Dengan bantuan dari masyarakat dan berbagai pihak, diharapkan proses pencarian dapat selesai dengan cepat dan seluruh korban dapat ditemukan.
Dalam situasi darurat seperti ini, kita harus saling membantu dan bekerja sama untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Dengan semangat gotong royong dan kerja sama, kita dapat mengatasi tantangan yang ada dan mencapai tujuan yang diinginkan.
Terakhir, kita berharap agar proses pencarian dan evakuasi korban dapat selesai dengan baik dan seluruh korban dapat ditemukan. Kita juga berharap agar keluarga korban dapat diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi situasi yang sulit ini.





