Beranda / Berita Lokal / Isra Mi’raj 1447 H: Dedie Rachim Ungkap Rahasia Keseimbangan Ibadah yang Selalu Diabaikan Umat Islam

Isra Mi’raj 1447 H: Dedie Rachim Ungkap Rahasia Keseimbangan Ibadah yang Selalu Diabaikan Umat Islam

Isra Miraj 1447 H Dedie Rachim Ungkap Rahasia Keseimbangan Ibadah

Peringatan Isra Mi’raj 1447 H di Bogor: Momentum Spiritual yang Menginspirasi

Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW tahun 1447 Hijriah di Kota Bogor menjadi momentum khidmat yang sangat berkesan. Acara yang berlangsung di Masjid Agung Al-Isra, Jalan Nyi Raja Permas, Kota Bogor, Selasa (20/1) ini dihadiri ratusan jamaah serta jajaran pemerintah daerah. Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menjadi salah satu tokoh yang memberikan sambutan dalam peringatan ini.

Dedie Rachim mengungkapkan bahwa peristiwa Isra Mi’raj bukan hanya sejarah, tetapi juga menjadi titik balik dalam pembentukan akhlak umat Islam. Ia menekankan bahwa turunnya perintah salat lima waktu secara langsung dari Allah SWT merupakan hal yang sangat istimewa dan harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Salat Lima Waktu: Kewajiban yang Harus Dijaga Keseimbangannya

Menurut Dedie, salat lima waktu bukan hanya kewajiban ritual, tetapi juga fondasi utama pembentukan akhlak umat Islam. Ia menegaskan bahwa jika salat dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, dampaknya akan terasa dalam kehidupan sosial.

“Isra Mi’raj adalah peristiwa besar dalam sejarah umat Islam, yaitu turunnya perintah salat. Kalau saja perintah salat yang turun langsung dari Allah SWT kita laksanakan sebaik-baiknya, maka 1.500 masjid dan musala yang ada di Kota Bogor paling tidak akan menghasilkan orang-orang yang berakhlak,” ujar Dedie.

Ia mengatakan bahwa hingga saat ini masih banyak umat Islam yang dalam melaksanakan salat lima waktu masih belum sempurna. Menurutnya, perbaikan pelaksanaan ibadah salat dalam sehari-hari harus terus dilakukan oleh tiap individu.

“Masih banyak dari kita yang tentu belum sempurna melaksanakan tugas mulia ini. Oleh karena itu, melalui peringatan Isra Mi’raj dan ceramah yang disampaikan oleh K.H. Fikri Haikal semoga dapat menginspirasi kita bahwa seluruh rangkaian sholat itu harusnya bisa menjadikan seseorang itu berakhlak,” katanya.

Ibadah Wajib vs. Ibadah Sunnah: Keseimbangan yang Harus Diperhatikan

Dedie turut mengingatkan kepada para jamaah yang hadir bahwa dalam melaksanakan ibadah wajib, perlu juga diimbangi dengan ibadah-ibadah lainnya. Ia berpendapat bahwa ibadah wajib yang dilakukan tanpa diimbangi dengan ibadah sunnah akan menjadi “bolong-bolong” dan perlu ditambal dengan ibadah lainnya.

“Ibadah wajib itu harus diimbangi dengan ibadah-ibadah yang lain, karena siapa tau ibadah wajib masih bolong-bolong bisa ditambal oleh ibadah lainnya. Salah satu contoh yang baik itu apabila kita tidak membuang sampah sembarangan maka tidak akan terjadi banjir,” tuturnya.

Dedie juga mengungkapkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, umat Islam harus lebih sadar akan pentingnya ibadah sunnah. Ia berpendapat bahwa ibadah sunnah seperti salam, beramal, dan berbuat baik kepada sesama adalah bagian penting dalam menjaga keseimbangan ibadah.

K.H. Fikri Haikal: Salat sebagai Komunikasi Langsung dengan Allah

Sementara itu, K. H. Fikri Haikal MZ dalam tausiyahnya menyampaikan bahwa Isra dan Mi’raj merupakan momentum turunnya perintah salat lima waktu sebagai bentuk komunikasi langsung seorang hamba dengan Allah SWT.

“Salat adalah komunikasi seorang hamba kepada Tuhannya secara langsung tanpa perantara, dimulai dengan niat, takbir, dan diakhiri dengan salam. Dengan salat lima waktu, hati kita selalu mengingat keberadaan Allah SWT,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa salat yang dilaksanakan dengan kesadaran dan kekhusyukan akan membentuk kepribadian dan keseimbangan hidup. Menurutnya, salat bukan hanya untuk memenuhi kewajiban, tetapi juga sebagai media untuk perbaikan diri.

“Salat melekatkan kita, ketika bahagia kebahagiaan tidak berlebihan, ketika gundah kesedihan tidak berlarut. Maka dari itu, salat jangan hanya sebatas menggugurkan kewajiban, tetapi menjadi media untuk perbaikan diri,” pungkasnya.

Pesan Akhir: Kembali ke Akar Ibadah dengan Keseimbangan

Dari peringatan Isra Mi’raj 1447 H ini, ada beberapa pesan penting yang bisa diambil. Pertama, salat lima waktu adalah kewajiban yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh dan tidak boleh diabaikan. Kedua, ibadah wajib harus diimbangi dengan ibadah sunnah untuk menjaga keseimbangan dalam ibadah. Terakhir, salat bukan hanya untuk memenuhi kewajiban, tetapi juga sebagai media untuk perbaikan diri.

Dedie Rachim dan K.H. Fikri Haikal telah mengungkapkan bahwa umat Islam harus lebih sadar akan pentingnya ibadah dan keseimbangannya. Dengan menjaga keseimbangan dalam ibadah, umat Islam akan dapat menjalankan kehidupan yang lebih berakhlak dan bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *