Beranda / Berita Lokal / Korupsi Ekspor POME: Penggeledahan Kejagung ke Money Changer dan Jejak Uang yang Hilang

Korupsi Ekspor POME: Penggeledahan Kejagung ke Money Changer dan Jejak Uang yang Hilang

“`html

Pendahuluan: Korupsi Ekspor POME dan Jejak Uang yang Hilang

Kasus korupsi ekspor Palm Oil Mill Effluent (POME) atau limbah cair kelapa sawit menjadi salah satu skandal keuangan terbesar yang melibatkan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Ditjen Bea Cukai) selama periode 2022-2024. Kejaksaan Agung (Kejagung) telah melakukan serangkaian penggeledahan, termasuk ke money changer di Jakarta, untuk menelusuri aliran dana yang diduga berasal dari tindak pidana korupsi ini. Artikel ini mengungkap detail investigasi, jejak uang yang hilang, dan implikasi sistemik yang melibatkan berbagai instansi pemerintahan.

Penggeledahan Money Changer: Jejak Uang yang Dibersihkan

Tim penyidik Kejaksaan Agung menggeledah dua money changer di pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur pada akhir Desember 2025. Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus, Syarief Sulaeman Nahdi, mengkonfirmasi bahwa penggeledahan tersebut terkait dengan penyidikan dugaan korupsi tata kelola CPO (Crude Palm Oil) dan POME. “Ada aliran uang, dari mana dan ke mananya belum bisa kami buka. Tapi melalui ke tempat penukaran uang itu,” ujarnya.

Penggeledahan ini dilakukan untuk mencari jejak transaksi yang diduga melibatkan uang hasil korupsi. Kejagung menyita dokumen transaksi dari money changer tersebut, yang dipercaya sebagai bukti aliran dana yang telah dibersihkan (money laundering). “BB (barang bukti) yang kami sita ada berupa dokumen. Karena yang kami cari adalah jejak-jejak transaksi disitu,” jelas Syarief.

Korupsi di Lingkungan Bea dan Cukai: Kerugian Negara yang Raksasa

Kasus ini tidak hanya melibatkan money changer, tetapi juga pejabat Bea dan Cukai. Kejagung telah menggeledah lima titik lokasi, termasuk kantor Bea Cukai dan rumah pejabat, pada 22 Oktober 2025. Dalam penggeledahan tersebut, penyidik menyita dokumen terkait ekspor POME. “Terkait dengan penggeledahan kantor Bea Cukai memang benar ada beberapa tindakan-tindakan hukum yang dilakukan tim penyidik Gedung Bundar dalam rangka mencari informasi dan data,” kata Anang, salah satu penyidik.

Kerugian negara yang ditimbulkan oleh korupsi ini diperkirakan sangat besar. Kejagung telah berkoordinasi dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk menghitung kerugian negara. Namun, hingga saat ini, angka pasti belum diungkapkan. “Kami masih dalam tahap penyidikan dan menghitung kerugian yang tepat,” ujar salah satu sumber dari Kejagung.

Jejak Uang yang Hilang: Siapa yang Terlibat?

Saat ini, penyidik masih menelusuri aliran uang yang diduga berasal dari korupsi ekspor POME. Syarief Sulaeman Nahdi mengaku belum bisa mengungkap sosok-sosok yang terlibat dalam kasus ini. “Memang ada aliran uang, dari mana dan ke mananya belum bisa kami buka. Tapi melalui ke tempat penukaran uang itu,” ujarnya.

Penggeledahan ke money changer menunjukkan bahwa uang hasil korupsi telah dibersihkan melalui sistem penukaran valuta asing. Hal ini mengindikasikan adanya jaringan yang kompleks, melibatkan pejabat Bea dan Cukai, money changer, dan mungkin pihak ketiga yang terlibat dalam penggelapan pajak dan korupsi.

Implikasi Sistemik: Korupsi di Instansi Pemerintah

Kasus korupsi ekspor POME bukan hanya masalah individual, tetapi juga mengungkap kerusakan sistemik di instansi pemerintahan. Bea dan Cukai, sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas pengawasan ekspor dan impor, justru menjadi tempat korupsi berkecamuk. Hal ini menunjukkan adanya kekurangan pengawasan dan ketidaktransparan dalam tata kelola keuangan negara.

Kejagung telah menginterogasi lebih dari 20 saksi terkait kasus ini. Namun, hingga saat ini, belum ada penahanan yang dilakukan. “Kami masih dalam tahap penyidikan dan mengumpulkan bukti yang kuat,” kata salah satu penyidik. Kasus ini juga mengungkap adanya keterlibatan money changer dalam pembersihan uang hasil korupsi, yang menunjukkan adanya jaringan kejahatan yang saling terhubung.

Kesimpulan: Perlu Reformasi yang Mendalam

Kasus korupsi ekspor POME menunjukkan bahwa korupsi di Indonesia masih menjadi masalah yang serius. Penggeledahan ke money changer dan kantor Bea Cukai mengungkap adanya jaringan yang kompleks yang melibatkan berbagai pihak. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan reformasi yang mendalam, baik dalam tata kelola keuangan negara maupun pengawasan yang lebih ketat terhadap instansi pemerintah.

Kejagung harus segera menyelesaikan penyidikan dan membuka kasus ini ke publik. Transparansi dalam penyidikan korupsi sangat penting untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap instansi pemerintahan. Selain itu, pemerintah juga harus memperketat pengawasan terhadap money changer dan transaksi valuta asing untuk mencegah pembersihan uang hasil korupsi.

“`

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *