Pemerintah DKI Jakarta Siapkan Strategi Menghadapi Banjir dengan WFH dan PJJ
Jakarta, sebagai ibu kota Indonesia, seringkali menghadapi masalah banjir akibat curah hujan yang tinggi. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung Wibowo, telah menyiapkan beberapa strategi untuk menghadapi potensi banjir di masa depan.
WFH dan PJJ sebagai Solusi Menghadapi Banjir
Pramono Anung Wibowo menyatakan bahwa Pemprov DKI Jakarta akan mengeluarkan imbauan bekerja dari rumah (Work From Home/WFH) bagi pegawai dan pekerja apabila ada indikasi banjir di ibu kota. Selain itu, kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi dunia pendidikan juga akan diterapkan apabila situasi banjir di Jakarta dinilai cukup parah.
Menurut Pramono, keputusan untuk menerapkan WFH dan PJJ akan diambil berdasarkan evaluasi kondisi cuaca dan potensi banjir. “Kalau memang akan terulang kembali dan mudah-mudahan tidak, karena kemarin ketika curah hujan di hari Sabtu-Minggu, kebetulan libur panjang sehingga tidak memerlukan ‘Work From Home’,” katanya di Balai Kota Jakarta.
Namun, jika ada indikasi banjir di hari biasa, Pramono akan memutuskan untuk menerapkan WFH. “Tetapi kalau kemudian ada indikasi seperti itu (banjir) dan di hari biasa, saya akan memutuskan untuk dilakukan WFH,” tambahnya.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai Upaya Antisipasi Banjir
Pemprov DKI Jakarta juga telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai upaya antisipasi banjir. Pramono menjelaskan bahwa OMC tidak dilakukan pada hari Sabtu (17/1) karena prakiraan curah hujan di Jakarta tidak terlalu tinggi. Namun, ternyata curah hujan pada hari itu lebih tinggi dari prakiraan, mencapai 260-280 mm.
“Kenapa Sabtu dan Minggu itu tidak kita lakukan? Karena memang perkiraan kita itu curah hujannya tidak seperti itu. Begitu curah hujannya ternyata tinggi sekali dan kemudian kalau hari Minggunya juga terjadi curah hujan seperti itu, saya yakin pasti bertahan lama banjirnya di Jakarta,” kata Pramono.
Pramono meminta agar OMC dilakukan pada hari Minggu (18/1) untuk meringankan dampak banjir di Jakarta. Ia juga meminta agar seluruh pompa yang dimiliki oleh Pemprov Jakarta untuk dimaksimalkan untuk mengurangi genangan banjir.
Dampak Cuaca Ekstrem terhadap Banjir di Jakarta
Pramono menyebutkan bahwa cuaca ekstrem tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga di daerah lainnya di Indonesia. “Hampir sepanjang Pantai Utara Jawa hari ini juga masih kebanjiran semua,” katanya.
Menurut Pramono, fasilitas pompa yang dimiliki oleh Pemprov Jakarta cukup untuk mengurangi genangan banjir. Namun, jika curah hujannya rata-rata di atas 250 mm, pasti akan terjadi genangan banjir di Jakarta.
Penanganan Banjir di Masa Depan
Pemprov DKI Jakarta terus berupaya untuk meningkatkan kapasitas penanganan banjir di Jakarta. Pramono menyatakan bahwa Pemprov Jakarta akan terus memantau kondisi cuaca dan potensi banjir untuk mengambil langkah-langkah antisipatif.
Selain itu, Pemprov Jakarta juga akan terus meningkatkan infrastruktur penanganan banjir, termasuk pembangunan Giant Sea Wall yang akan dimulai pada September 2026.
Kesimpulan
Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan strategi untuk menghadapi potensi banjir di masa depan, termasuk penerapan WFH dan PJJ, serta upaya antisipasi banjir melalui OMC. Dengan meningkatkan kapasitas penanganan banjir dan infrastruktur yang memadai, diharapkan Jakarta dapat mengurangi dampak banjir di masa depan.




