Beranda / Berita Umum / Profesionalitas Choky Sitohang Dibentak Pejabat: Curhat Menaklukkan Arogansi di Panggung

Profesionalitas Choky Sitohang Dibentak Pejabat: Curhat Menaklukkan Arogansi di Panggung

Profesionalitas Choky Sitohang Dibentak Pejabat Curhat Menaklukkan Arogansi di Panggung

Choky Sitohang, presenter kondang, baru-baru ini membagikan pengalaman menyakitkan saat bertugas sebagai MC di salah satu lembaga negara. Insiden ini tidak hanya mengungkapkan sikap arogansi pejabat, tetapi juga menegaskan pentingnya profesionalisme di tengah tekanan.

Pembukaan Hangat yang Berubah Menjadi Bentakan

Choky tiba jauh lebih awal dari waktu yang ditentukan, melakukan koordinasi akhir terkait materi acara, dan menunggu di ruang transit. Saat tuan rumah, seorang pejabat tinggi senior, masuk ke ruang transit bersama tim protokolernya, suasana berubah drastis. Tanpa alasan yang jelas, pejabat tersebut membentak Choky dan rekan tandemnya dari jarak dekat.

“Ayo, ayo, ini sudah terlambat 10 menit! Kalau belum siap, tinggalin aja! Udah, tinggalin aja!”

Choky mengaku gagal paham dengan sikap pejabat tersebut karena secara teknis waktu masih berada pada fase pra-acara sesuai kesepakatan bersama. Meskipun Choky berusaha merespons dengan tenang dan menyatakan kesiapannya, pejabat tersebut terus bernada kesal dan menyuruh mereka ditinggalkan saja.

Konfrontasi Internal: Menghormati atau Menghadapi

Insiden tersebut sempat mengganggu konsentrasi Choky sesaat sebelum naik panggung. Muncul gejolak batin antara keinginan untuk melakukan konfrontasi langsung atau mengabaikan penghormatan terhadap pejabat tersebut dalam naskah pembukaan. Choky merasa bahwa secara subjektif, orang yang bersikap arogan di depan publik perlu mendapatkan edukasi mengenai etika dan empati.

“Sudah di pinggir panggung, ‘standby’ buat ‘opening.’ Tapi algoritma otak ngacak: mulai dr godaan ngeliatin mata si pejabat ‘eye to eye’ secara tajam, sampe ngasih bagian penghormatan namanya ke partner MC saja, krn tak sudi (pandangan subyektif non-profesional sy, orang seperti pejabat ini ngga layak dihormati, apalagi di hadapan publik; kecuali dia udh ngambil kelas etika, empati dan persuasi di @chossi_publicspeaki ng dan wajib lulus dgn kualifikasi Wajar Tanpa Pengecualian!)

Choky pun melanjutkan, “Sejauh ini manteman bisa ngikutin alurnya? Mayan kompleks nih hati, antara pengen konfrontir langsung si pejabat atau minta penjelasan dr panitia di tempat, sebelum kami naik panggung dan melaksanakan tugas menghibur, mengamankan acara sampai sukses, yg ujungnya biar gak malu-maluin pejabat itu jg (karena kan ini acaranya dia, pigimana sih?!)”

Profesionalisme di Atas Emosi Pribadi

Meski mendapat perlakuan tidak menyenangkan, Choky memilih untuk tetap tenang dan fokus pada kesuksesan acara. Ia tetap menyapa pejabat tersebut dengan sebutan “yang kami hormati” saat membuka acara demi menjaga marwah pekerjaan dan kehormatan semua pihak. Baginya, kemampuan untuk tetap tegak dan berkata-kata membangun di tengah situasi krisis adalah bentuk bantuan Tuhan.

“Syukur kpd Tuhan, sambil berdoa dlm hati dan mengingat-ingat kebaikan Tuhan selama membangun karir sbg MC, dimana Dia telah mengangkat sy di berbagai ruang acara dan berdampak disana, sy bisa tetap bersikap tenang di panggung, fokus pada tujuan besar, berkata-kata yg membangun, dan dgn kepala tegak sy tetap menyapa pejabat itu dgn awalan ‘yang kami hormati.’

Setelah acara selesai dengan lancar, pejabat tersebut dikabarkan langsung pergi tanpa memberikan penjelasan atau permintaan maaf atas sikap arogannya. Choky menyayangkan adanya klien yang memiliki pola pikir transaksional, di mana profesi mulia dianggap sebatas jasa yang bisa dibayar dengan uang tanpa perlu mengedepankan etika komunikasi.

Pesan untuk Rekan Seprofesi

Kepada sesama rekan MC, Choky berpesan untuk tetap kuat saat dianggap remeh atau dipersalahkan oleh klien. Ia menekankan pentingnya menjaga wibawa orang lain dengan tidak menjatuhkan lawan di panggung, tetap bersyukur, dan mengarahkan energi kepada Tuhan sebagai pemberi talenta.

“Kepada para kompatriot saya, rekan-rekan seprofesi MC, sy ngerti rasanya dianggap remeh, disalah- mengerti, dipersalahkan, dipojokin, dituding-tuding oleh org lain, dan tdk jarang itu ditunjukin oleh klien sendiri. Mereka ngga paham bgm pergumulan belakang layar kita, terutama pas ada dinamika; dan semua kita responi dgn cepat biar acara mereka sukses, mereka jg yg dapat panggung dan pujian atas pekerjaan yg kita lakukan.

Jika hal ini tjd, tarik nafas dalam, buang dgn penuh ucapan syukur, pilah pikiran, bedah kebutuhan, lakukan apa yg mesti dilakuin demi kehormatan! Dan tetaplah berusaha menjaga wibawa orang lain dgn tdk menjatuhkan lawan di kanvas mereka, seberapapun kuasa yg km punya dgn pelantang suara di tangan. Arahkan pandangan dan salurkan energi pd Yang Tak Terlihat, yaitu Tuhan Semesta Alam, yg ngasih kamu talenta dlm segala kesempatan yg ada. Teruslah berjuang buat orang- orang yg kau sayang,” pungkas Choky dalam unggahannya pada Minggu (1/2/2026).

Analogi dan Konteks Historis

Situasi yang dialami Choky mirip dengan seorang pelatih sepak bola yang harus menghadapi tekanan dari manajemen klub yang tidak profesional. Pelatih harus tetap fokus pada pertandingan meskipun ada tekanan dari pihak manajemen yang tidak mengedepankan etika.

Di balik layar, banyak insiden serupa yang terjadi di masa lalu. Misalnya, pada tahun 2010, seorang presenter terkenal di Indonesia juga mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan dari seorang pejabat tinggi. Namun, ia memilih untuk tetap profesional dan tidak membalas dengan emosi.

Dampak dan Implikasi

Insiden ini memiliki dampak jangka pendek dan panjang. Jangka pendek, Choky mungkin mengalami tekanan psikologis akibat perlakuan yang tidak adil. Namun, jangka panjang, insiden ini dapat menjadi pelajaran bagi para profesional untuk tetap menjaga profesionalisme mereka di tengah situasi yang tidak menyenangkan.

Implikasi lain adalah pentingnya edukasi etika dan komunikasi bagi pejabat tinggi. Pejabat yang memiliki sikap arogansi dapat menyebabkan kerusakan pada citra lembaga yang mereka wakili.

Perspektif Berbeda

Dari sisi Choky, insiden ini adalah pelajaran tentang pentingnya profesionalisme dan etika. Namun, dari sisi pejabat, insiden ini mungkin hanya dianggap sebagai kesalahan kecil yang tidak perlu diambil serius.

Dari sisi publik, insiden ini dapat menjadi pelajaran tentang pentingnya menghormati profesionalisme dan etika di tempat kerja.

Pertanyaan Seputar Topik (FAQ)

Apa yang seharusnya dilakukan Choky saat dihadapkan dengan situasi seperti ini?

Choky seharusnya tetap profesional dan fokus pada kesuksesan acara. Ia juga dapat mengklarifikasi situasi dengan panitia atau manajer acara setelah acara selesai.

Bagaimana cara menghadapi pejabat yang bersikap arogansi?

Cara terbaik adalah dengan tetap profesional dan tidak membalas dengan emosi. Anda dapat mengklarifikasi situasi dengan pihak yang berwenang atau manajer acara.

Apakah pentingnya edukasi etika dan komunikasi bagi pejabat tinggi?

Ya, sangat penting. Pejabat tinggi harus memiliki pengetahuan tentang etika dan komunikasi untuk menghindari perlakuan yang tidak profesional dan merusak citra lembaga yang mereka wakili.

Artikel ini disarikan dari berbagai sumber berita nasional. Seluruh penyajian dan analisis merupakan pendapat menurut cara pandang kami, tanpa bermaksud menyudutkan atau merugikan pihak manapun.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *